SHARE OUR KNOWLEDGE

Sciences As A Pilot For Each Our Activity, and Share Our Knowledge Didn't Make A Dead Loss But Would Be Improved On About It.

Sunday, January 11, 2009

Terapi Oksigen

Oksigen (O2) merupakan salah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses metabolisme, untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel tubuh. Masing-masing sel dalam tubuh menggunakan oksigen untuk metabolisme nutrisi dan memproduksi tenaga. Tanpa oksigen, sel akan segera mati. Jika seseorang tanpa sakit atau cedera, oksigen 21% (dalam udara bebas) cukup untuk mendukung fungsi normal. Pada keadaan oksigenasi jaringan yang tidak adekuat, untuk mengenali kondisi hipoksemia agar terapi oksigen sukses diberikan dibutuhkan ketrampilan untuk pengenalan dini hipoksemia. Pengenalan dini tersebut sering sulit dilakukan karena gambaran klinis sering tidak spesifik seperti perubahan status mental, dyspnoea, sianosis, takipnoea, aritmia, dan koma. Hiperventilasi akibat stimulasi kemoreseptor korotis baru akan terjadi jika PaO2 dibawah 5,3 kPa (40 mmHg) sedangkan vasodilatasi perifer sebagai konsekuensi dari hipotensi sistemik baru akan terjadi jika PaO2 dibawah 4 kPa (30 mmHg). Kebutuhan terapi oksigen pasien ditentukan PaO2 dan atau SpO2 (diukur invasif / non-invasif) dengan atau adanya tanda klinis. (AARC Clinical Practice Guidline: Oxygen therapy for adults in the acute care facility: 2002 revision and update. http://www.guidline.gov/ ) Definisi: Pemberian oksigen pada konsentrasi diatas kadar oksigen udara bebas untuk tujuan terapi atau mencegah gejala-gejala dan manifestasi dari hipoksia. (AARC Clinical Practice Guidline: Oxygen therapy for adults in the acute care facility: 2002 revision and update. http://www.guidline.gov/ ) Tujuan dan Indikasi: Terapi O2 merupakan salah satu terapi pernafasan dalam mempertahankan oksigenasi. Tujuan umum diberikan terapi oksigen adalah untuk: - Mengatasi keadaan hipoksemia - Menurunkan kerja pernafasan - Menurunkan beban kerja otot jantung (miokard) Indikasi pemberian oksigen yaitu pada kondisi kerusakan O2 jaringan yang diikuti gangguan metabolisme dan sebagai bentuk hipoksemia, secara umum terjadi pada: - Kadar oksigen arteri (PaO2) rendah - Kerja pernafasan (laju nafas-nafas dalam, bernafas dengan otot tambahan) - Adanya peningkatan kerja otot jantung (miokard) Adapun kondisi klinis yang mungkin memerlukan terapi oksigen adalah: - Henti jantung paru. RJP hanya memberikan 25-33 % dari efektif sirkulasi. Pemberian oksigen konsentrasi tinggi memberikan survival yang lebih baik - Gagal nafas, gagal jantung atau AMI - Syok. Pada semua jenis syok jumlah oksigen darah menurun untuk sampai ke jaringan - Meningkatnya kebutuhan O2 (lika bakar, infeksi berat, multiple trauma) - Keracunan CO2 - Kehilangan darah - Penyakit paru - Hipoksemia (PaO2<7,8> 24 /min). (American Colege of Chest Physician and National Heart Lung and Blood Institute:N T Bateman and R M Leach. ABC of Oxygen: Acute oxygen terapy: Clinical Review. BMJ 1998; 317: 798-801) Kontraindikasi Tidak ada kontraindikasi spesifik pada terapi oksigen. (AARC Clinical Practice Guidline: Oxygen therapy for adults in the acute care facility: 2002 revision and update. http://www.guidline.gov/ ) Hipoksemia Hipoksia adalah ketidakcukupan suplai oksigen ke jaringan tubuh. Hipoksemia adalah kekurangan O2 di darah (arteri). (PaO2 pasien dengan udara bebas). Klasifikasi Hipoksemia Hipoksemia ringan adalah jika PaO2 antara 70-80 mmHg (pasien bernafas dengan udara bebas). Terapi O2 pada kondisi ini dengan: è Nasal kanul / binasal mulai 2-3 lt/mnt, atau è Masker 6 lt/mnt jika hipoksemia menuju ke sedang. Hipoksemia sedang adalah jika PaO2 antara 50-70 mmHg (pasien bernafas dengan udara bebas). Terapi O2 pada kondisi ini dengan: è Masker 8-12 lt/mnt, atau è Ventimask 50-60 % Gagal nafas adalah jika PaO2 <> 50 mmHg (pasien bernafas dengan udara bebas). Terapi O2 pada kondisi ini dengan: è Intubasi kemudian dilanjutkan dengan pemasangan ventilasi mekanik, atau è Pemberian resuscitator (ambubag 12-15 lt/mnt) selama tidak ada/ belum disiapkan atau pasien tidak toleransi terhadap ventilasi mekanik (ventilator) Persyaratan dalam pemberian terapi oksigen: Yang harus diperhatikan pada pemberian terapi oksigen pada pasien antara lain: - Mengatur pemberian fraksi O2 (% FiO2) / jumlah liter per menit - Mencegah terjadinya akumulasi kelebihan CO2 oleh karena salah metode - Resistensi minimal untuk pernafasan (terutama pada kasus PPOK) - Efesiensi & ekonomis dalam penggunaan O2 - Oksigen harus dapat diterima pasien

Peralatan terapi oksigen: Peralatan oksigen dapat berupa portable dan tidak portable (O2 sentral). Lingkungan dan peralatan oksigen harus aman oleh karena oksigen mudah terbakar. Sebagian besar terapi oksigen terdiri dari peralatan-peralatan sbb: Tabung O2 (Oxygen cylinders) Isi: 350 liter, 625 liter, 3000 liter, dll Pressure regulator: -flow meter - regulator Flowmeter terhubung regulator Humidifier terhubung flow meter Delivery sistem (metode pemberian)

Metode Pemberian Oksigen I. Sistem aliran rendah Tehnik system aliran rendah diberikan untuk menambah konsentrasi udara ruangan. Tehnik ini menghasilkan FiO2 yang bervariasi tergantung pada tipe pernafasan dengan patokan volume tidal pasien. Pemberian O2 sistem aliran rendah ini ditujukan untuk klien yang memerlukan O2 tetapi masih mampu bernafas dengan pola pernafasan normal. Membawa O2 100%. (fractional concentration of delivered oxygen [FDO2] =1.0) aliran O2 lebih rendah dari kecepatan aliran inspirasi pasien (O2 dicampur dengan udara bebas) sehingga konsentrasi O2 (FiO2) dapat lebih rendah atau lebih tinggi tergantung pada peralatan O2 spesifik yang digunakan dan kecepatan aliran inspirasi pasien. (Nasional Guidline Clearinghouse. GUIDE-LINE TITLE: Oxygen therapy for adults in the acute care facility: 2002 revision and update. http://www. Guidline.gov/) Oxygen delivery sistem yang termasuk dalam sistem aliran rendah antara lain adalah:

Kateter Nasal Aliran O2 1-6 lt/mnt menghasilkan oksigen dengan konsentrasi 24-44 % tergantung pola ventilasi pasien - Keuntungan Pemberian O2 stabil, klien bebas bergerak, makan dan berbicara, murah dan nyaman serta dapat juga dipakai sebagai kateter penghisap. - Kerugian Tidak dapat memberikan konsentrasi O2 yang lebih dari 45%, tehnik memasuk kateter nasal lebih sulit dari pada kanula nasal, dapat terjadi distensi lambung, dapat terjadi iritasi selaput lendir nasofaring, aliran dengan lebih dari 6 L/mnt dapat menyebabkan nyeri sinus dan mengeringkan mukosa hidung, kateter mudah tersumbat. - Bahaya: Iritasi lambung, pengeringan mukosa hidung, kemungkinan distensi lambung, epistaksis.

Kanula Nasal Aliran O2 1-6 lt/mnt menghasilkan O2 dengan konsentrasi 24-44% tergantung pada pola ventilasi pasien. - Keuntungan Pemberian O2 stabil dengan volume tidal dan laju pernafasan teratur, mudah memasukkan kanul disbanding kateter, klien bebas makan, bergerak, berbicara, lebih mudah ditolerir klien dan nyaman. - Kerugian Tidak dapat memberikan konsentrasi O2 lebih dari 44%, suplai O2 berkurang bila klien bernafas lewat mulut, mudah lepas karena kedalam kanul hanya 1 cm, mengiritasi selaput lendir. - Bahaya: Iritasi hidung, pengeringan mukosa hidung, nyeri sinus, epistaksis Sungkup Muka Sederhana (masker semi rigid) Aliran O2 5-8 lt/mnt menghasilkan O2 dengan konsentrasi 40 – 60 % - Keuntungan Konsentrasi O2 yang diberikan lebih tinggi dari kateter atau kanula nasal, system humidifikasi dapat ditingkatkan melalui pemilihan sungkup berlobang besar, dapat digunakan dalam pemberian terapi aerosol. - Kerugian Tidak dapat memberikan konsentrasi O2 kurang dari 40%, dapat menyebabkan penumpukan CO2 jika aliran rendah. - Bahaya: Aspirasi bila muntah, penumpukan CO2 pada aliran O2 rendah, empisema subcutan kedalam jaringan mata pada aliran O2 tinggi dan nekrose, apabila sungkup muka dipasang terlalu ketat. Sungkup muka ”Non Rebreathing” dengan kantong (reservoir) O2 / NRM (antara reservoir dan masker terdapat katup) Aliran O2 8-12 lt/mnt menghasilkan konsentrasi O2 90% - Keuntungan : Konsentrasi O2 yang diperoleh dapat mencapi 100%, tidak mengeringkan selaput lendir. - Kerugian Kantong O2 bisa terlipat. - Bahaya: Sama dengan sungkup ”rebreathing” Sungkup muka ”Rebreathing” dengan kantong O2 (antara reservoir/ kantong dengan masker tanpa ada penghalag/ katup) Aliran O2 8-12 lt/mnt menghasilkan konsentrasi O2 60-80% - Keuntungan Konsentrasi O2 lebih tinggi dari sungkup muka sederhana, tidak mengeringkan selaput lendir - Kerugian Tidak dapat memberikan O2 konsentrasi rendah, jika aliran lebih rendah dapat menyebabkan penumpukan CO2, kantong O2 bisa terlipat. - Bahaya: Terjadi aspirasi bila muntah, empisema subcutan ke dalam jaringan mata pada aliran O2 tinggi dan nekrose, apabila sungkup muka dipasang terlalu ketat. II. Sistem aliran tinggi Suatu tehnik pemberian O2 dimana FiO2 lebih stabil dan tidak dipengaruhi oleh tipe pernafasan, sehingga dengan tehnik ini dapat menambahkan konsentrasi O2 yang lebihtepat dan teratur. Pada sistem tinggi, aliran O2 lebih tinggi dari kecepatan aliran inspirasi pasien. Gas campuran yang masuk tubuh pasien sesuai yang diinginkan (diatur0. Yang termasuk dalam system ini antara lain Aerosol mask/ resuscitator, Venturi mask traceostomy collars, T-yube adapters, dan face tent. (Nasional Guidline Clearinghouse. GUIDE-LINE TITLE: Oxygen therapy for adults in the acute care facility: 2002 revision and update. http://www. Guidline.gov/) Sungkup muka venturi (venturi mask) Prinsip pemberian O2 dengan alat ini yaitu gas yang dialirkan dari tabung akan menuju ke sungkup yang kemudian akan dihimpit untuk mengatur suplai O2 sehingga tercipta tekanan negatif, akibatnya udaraluar dapat diisap dan aliran udara yang dihasilkan lebih banyak Aliran O2 4-14 lt/mnt menghasilkan konsentrasi O2 30-55% - Keuntungan Konsentrasi O2 yang diberikan konstan sesuai dengan petunjuk pada alat dan tidak dipengaruhi perubahan pola nafas terhadap FiO2, suhu dan kelembaban gas dapat dikontrl serta tidak terjadi penumpukan CO2 - Kerugian Kerugian system ini pada umumnya hampir sama dengan sungkup muka yang lain pada aliran rendah. - Bahaya: Terjadinya aspirasi bila muntah dan nekrosis karena pemasangan sungkup yang terlalu ketat Sungkup muka aerosol (ambu bag / resuucitator) Aliran lebih dari 12-15 lt/mnt menghasilkan konsentrasi O2 mendekati 100% Bahaya: Penumpukan air pada aspirasi bila muntah serta nekrosis karena pemasangan sungkup muka terlalu ketat. Masing-masing Delivery sistem (metode pemberian) oksigen akan memberikan perkiraan konsentrasi O2 (FiO2) yang berbeda-beda ke tubuh pasien. Tidak ada peralatan yang dapat memberi O2 sampai dengan 100% (termasuk ventilator), walaupun O2 dengan kecepatan > dari Peak Inspiratory Flow Rate (PIFR). Peralatan mampu memberikan O2 mendekati 100% adalah resuscitator dengan O2 12-15 lt/mnt

Pemantauan Terapi O2 Selama terpasang oksigen pasien harus dipantau keefektifan terapi tersebut disamping juga memantau kemungkinan timbulnya bahaya dari terapi tersebut. Pemantauan pasien dapat dilakukan dengan melihat: Warna kulit pasien. Pada pemberian terapi O2 yang adekuat kulit akan berwarna pink, sedangkan jika masih hipoksemia kulit akan tampak pucat. Pada pemberian terapi oksigen yang berlebihan dapat menimbulkan warna merah membara di daerah mata, muka dan kemudian menjalar ke bahu (bawah). Analisa Gas Darah (AGD) merupakan prosedur invasif dalam mengukur kadar oksigen darah dan asam basa tubuh. Oksimetri untuk menilai SpO2, merupakan prosedur non-invasif yang dapat menilai kandungan O2 yang terikat Haemoglobin. Keadaan umum pasien. Bahaya Terapi O2 Pemberian O2 bukan hanya memberiakan efek terapi tetapi juga dapat menimbulkan efek merugikan, antara lain : 1. Kebakaran O2 bukan zat pembakar tetapi O2 dapat memudahkan terjadinya kebakaran, oleh karena itu klein dengan terapi pemberian O2 harus menghindari : Merokok, membukan alat listrik dalam area sumber O2, menghindari penggunaan listrik tanpa “Ground”. 2. Depresi Ventilasi Pemberian O2 yang tidak dimonitor dengan konsentrasi dan aliran yang tepat pada klien dengan retensi CO2 dapat menekan ventilasi 3. Keracunan O2 Dapat terjadi bila terapi O2 yang diberikan dengan konsentrasi tinggi dalam waktu relatif lama. Keadaan ini dapat merusak struktur jaringan paru seperti atelektasi dan kerusakan surfaktan. Akibatnya proses difusi di paru akan terganggu Keracunan O2 dapat terjadi pada pemberian jangka lama dan berlebihan. Dapat dihindari dengan pemantauan AGD dan oksimetri. Keracunan oksigen dapat menyebabkan antara lain: Nekrose CO2 (pemberian dengan FiO2 tinggi) pada pasien dependent on Hipoxic drive misal kronik bronchitis, depresi pernafasan berat dengan penurunan kesadaran. Jika terapi oksigen diyakini merusak CO2, terapi O2 diturunkan perlahan-lahan karena secara tiba-tiba sangat berbahaya. Tixicitas paru, pada pemberian FiO2 tinggi )mekanisme secara pasti tidak diketahui). Terjadi penurunan secara progresif complience paru karena perdarahan interstisiil dan oedema intra alviolar. Retrolental fibroplasias. Pemberian dengan FiO2 tinggi pada bayi premature pada bayi BB<1200gr.>(Nasional Guidline Clearinghouse. GUIDE-LINE TITLE: Oxygen therapy for adults in the acute care facility: 2002 revision and update. http://www. Guidline.gov/) Terapi Oksigen pada Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) Terapi oksigen pada kondisi akut Pada pasien PPOK yang berusia >50 tahun, pemberian oksigen tanpa dilakukan pemeriksaan AGD tidak dianjurkan. Jika O2 diberikan dalam konsentrasi > 28% maka pemberiannya dengan alat (venturi mask) atau 2lt/mnt nasal prongs) Terapi oksigen jangka lama (Long term oxygen therapy [LTOT]) Jika kadar PaO2 (darah arteri) <7,3>(Use of Oxygen therapy in COPD (assessment etc) http://www.patient.co.uk/ ) Monitoring pemberian oksigen dilakukan dalam waktu 2 jam pemberian Pada pasien PPOK eksaserbasi akut, O2 aliran tinggi menyebabkan aggravate acute hypercapnic respiratory failure dan lebih lanjut mempengaruhi prognosis. Awal pemberian O2 direkomendasikan dengan cara pemberian FiO2 tidak lebih dari 28%. PPOK yang disertai hipoksemia berat SaO2<90%> (http://www.findarticles.com/)

Labels: , ,

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home