SHARE OUR KNOWLEDGE

Sciences As A Pilot For Each Our Activity, and Share Our Knowledge Didn't Make A Dead Loss But Would Be Improved On About It.

Sunday, January 11, 2009

Defibrilasi (Kejut Jantung)

Defibrilasi adalah suatu tindakan terapi dengan cara memberikan aliran listrik yang kuat dengan metode asinkron ke jantung pasien melalui elektroda yang ditempatkan pada permukaan dada pasien. Tujuannya adalah untuk koordinasi aktivitas listrik jantung dan mekanisme pemompaan, ditunjukkan dengan membaiknya cardiac output, perfusi jaringan dan oksigenasi. American Heart Association (AHA) merekomendasikan agar defibrilasi diberikan secepat mungkin saat pasien mengalami gambaran VT non-pulse atau VF, yaitu 3 menit atau kurang untuk setting rumah sakit dan dalam waktu 5 menit atau kurang dalam setting luar rumah sakit. Defibrilasi dapat dilakukan diluar rumah sakit karena sekarang ini sudah ada defibrillator yang bisa dioperasikan oleh orang awam yang disebut automatic external defibrillation (AED). AED adalah defibrillator yang menggunakan system computer yang dapat menganalisa irama jantung, mengisi tingkat energi yang sesuai dan mampu memberikan petunjuk bagi penolong dengan memberikan petunjuk secara visual untuk peletakan ekektroda Indikasi defibrilasi Defibrilasi merupakan tindakan resusitasi prioritas utama (rekomendasi class I) yang ditujukan pada: - Ventrikel fibrilasi (VF) - Ventrikel takikardi tanpa nadi (VT non-pulse) Meskipun defibrilasi merupakan terapi definitive untuk VF dan VT non-pulse, penggunaan defibrilasi tidak berdiri sendiri tetapi disertai dengan resusitasi. kardiopulmonari (RKP). Peran aktif dari penolong atau tenaga kesehatan pada saat mendapati pasien dengan cardiac arrest, dimana sebagian besar menunjukkan VF dan VT, untuk bertahan terbukti meningkat. Dikutip dari AHA dalam ACLS: principle and practice, dalam 4 studi disebutkan bahwa terdapat hubungan antara interval dari kolaps dengan dimulainya pemberian RKP Prinsip Defibrilasi Kejutan memberikan energi dalam jumlah banyak dalam waktu yang sangat singkat (beberapa detik) melalui pedal positif dan negative yang ditekankan pas dinding dada atau melalui adhesive pads yang ditempelkan pada sensing dada pasien. Arus listrik yang mengalir sangat singkat ini bukan merupakan loncatan awal bagi jantung untuk berdetak, tetapi mekanismenya adalah aliran listrik yang sangat singkat ini akan mendepolarisasi semua miokard, menyebabkan berhentinya aktivitas listrik jantung atau biasa disebut asistole. Beberapa saat setelah berhentinya aktivitas listrik ini, sel-sel pace maker akan berrepolarisasi secara spontan dan memungkinkan jantung untuk pulih kembali. Siklus depolarisasi secara spontan dan repolarisasi sel-sel pacemaker yang reguler ini memungkinkan jantung untuk mengkoordinasi miokard untuk memulai aktivitas kontraksi kembali. Faktor-faktor yang menentukan keberhasilan defibrilasi 1. Lamanya VF Kesuksesan defibrilasi tergantung dari status metabolisme miokards dan jumlah miokard yang rusak selama periode hipoksia karena arrest. Semakin lama waktu yang digunakan untuk memulai defibrilasi maka semakin banyak persediaan ATP yang digunakan miokard untuk bergetar sehingga menyebabkan jantung memakai semua tenaga sampai habis dan keadan ini akan membuat jantung menjadi kelelahan. 2. Keadaan dan kondisi miokard Hipoksia, asidosis, gangguan elektrik, hipotermi dan penyakit dasar jantung yang berat menjadi penyulit bagi pemulihan aktivitas kontraksi jantung. 3. besarnya jantung Makin besar jantung, makin besar energi yang dibutuhkan untuk defibrilasi. 4. Ukuran pedal Ukuran diameter pedal dewasa yang dianjurkan adalah 8,5-12 cm dan untuk anak-anak berkisar 4,5-4,8 cm. ukuran pedal terlalu besar membuat tidak semua permukaan pedal menempel pada dinding dada dan menyebabkan banyak arus yang tidak sampai ke jantung. Untuk itu, penggunaan pedal pada anak-anak bisa disesuaikan dengan ukuran tubuhnya. 5. Letak pedal Hal yang sangat penting tetapi sering kali diabaikan adalah peletakan pedal pada dinding dada saat dilakukan defibrilasi. Pedal atau pad harus diletakkan pada posisi yang tepat yang memungkinkan penyabaran arus listrik kesemua arah jantung. - posisi sternal, pedal diletakkan dibagian kanan atas sternum dibawah klavikula - pedal apeks diletakkan disebelah kiri papilla mamae digaris midaksilaris. Pada wanita, posisi pedal apeks ada di spasi interkosta 5-6 pada posisi mid-axilaris. Pada pasien yang terpasang pacemaker permanent, harus dihindari peletakan padel diatas generator pacemaker, geser pedal setidaknya 1 inchi dari tempat itu. Defibrilasi langsung ke generator pacemaker dapat menyebabkan malfungsi pace maker secara temporary atau permanent. Setelah dilakukan defibrilasi atau kardioversi, PPM harus dicek ambang pacing dan sensinya serta dilihat apakah alat masih bekerja sesuai dengan setting program. Hal yang harus diperhatikan pada saat melakukan defibrilasi adalah posisi pedal atau pads, keduanya tidak boleh saling menyentuh atau harus benar-benar terpisah. 6. Energi Pada defibrilator monofasik energi yang diberikan 360 joule, sedangkan pada defibrilator bifasik 200J. Untuk anak-anak, energi yang diperlukan adalah 1-2 joule/kg BB, maksimal 3 j/kg BB 7. Jelli/Gel Saat menggunakan pedal, jangan lupa memberikan jelli khusus untuk defibrilasi atau kardioversi pada pedal. Jelli berfungai sebagai media konduksi untuk penghantar arus listrik. Tujuan dari pemberian gel adalah untuk mengurangi resistensi transtorakal dan mencegah luka bakar pasien. Yang harus diperhatikan juga adalah jangan sampai gel tersebut teroles dikulit diantara sternum dan apeks, atau jelli dari salah satu atau ekdua pedal mengalir menghubungkan keduanya pada saat ditekan ke dada pasien. Jika ini terjadi akan mengakibatkan arus hanya mengalir dipermukaan dinding dada, aliran arus ke jantung akan missing memancarkan bunga api yang menyebabkan sengatan listrik pasien pada pasien dan alat-alat operator. Komplikasi defibrilasi a. Henti jantung-nafas dan kematian b. Anoxia cerebral sampai dengan kematian otak c. Gagal nafas d. Asistole e. Luka bakar f. Hipotensi g. Disfungsi pace-maker Persiapan Peralatan - Defibrillator dengan monitor EKG dan pedalnya - Jelly - Obat-obat Emergency (Epinephrine, Lidocain, SA, Procainamid, dll) - Oksigen - Face mask - Papan resusitasi - Peralatan intubasi dan suctionPeralatan pacu jantung emergency Persiapan Pasien a. Pastikan pasien dan atau keluarga mengerti prosedur yang akan dilakukan b. Letakkan pasien diatas papan resusitasi pada posisi supine c. Jauhkan barang-barang yang tersebut dari bahan metal dan air disekitar pasien d. Lepaskan gigi palsu atau protesa lain yang dikenakan pasien untuk mencegah obstruksi jalan nafas e. Lakukan RKP secepatnya jika alat-alat defibrillator belum siap untuk mempertahankan cardiac output yang akan mencegah kerusakan organ dan jaringan yang irreversible. f. Berikan oksigen dengan face masker untuk mempertahankan oksigenasi tetap adekuat yang akan mengurangi komplikasi pada jantung dan otak g. Pastikan mode defibrillator pada posisi asyncrone h. Matikan pace maker (TPM) jika terpasang. Prosedur Defibrilasi 1. Oleskan jelly pada pedal secara merata 2. Pastikan posisi kabel defibrillator pada posisi yang bisa menjangkau sampai ke pasien 3. Nyalakan perekaman EKG agar mencetak gambar EKG selama pelaksanaan defibrilasi 4. Letakkan pedal pada posisi apeks dan sternum 5. Charge pedal sesuai energi yang diinginkan (360 joule) 6. Pastikan semua clear atau tidak ada yang kontak dengan pasien, bed dan peralatan pada hitungan ketiga (untuk memastika jangan lupa lihat posisi semua personal penolong) 7. Pastikan kembali gambaran EKG adalah VT atau VF non-pulse 8. Tekan tombol pada kedua pedal sambil menekannya di dinding dada pasien, jangan langsung diangkat, tunggu sampai semua energi listrik dilepaskan. 9. Nilai gambaran EKG dan kaji denyut nadi karotis 10. Jika tidak berhasil, langsung charge pedal dengan energi 360 joule dan ulangi langkah 4-9 11. jika kejutan kedua tidak berhasil, lakukan tahapan ACLS berikutnya 12. Bersihkan jelly pada pedal dan pasien Monitoring Pasien Setelah Defibrilasi a. Evaluasi status neurology. Orientasikan klien terhadap orang, ruang, dan waktu b. Monitor status pulmonary (RR, saturasi O2) c. Monitor status kardiovaskuler (TD, HR, Ritme) setiap 15 menit d. Monitor EKG e. Mulai berikan obat anti disritmia intravena sesuai dengan anjuran dokter f. Kaji apakah ada kulit yang terbakar g. Monitor elektrolit (Na. K, Cl) Dokumentasi dan laporan setelah tindakan 1. Print out EKG sebelum, selama dan sesudah defibrilasi 2. Status neurology, respirasi dan kardioversi sebelum dan sesudah defibrilasi 3. Energi yang digunakan untuk defibrilasi 4. Semua hasil yang tidak diinginkan dan intervensi yang telah diberikan

Labels: , , ,

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home